TNI Angkatan Udara (AU) identik dengan pesawat terbang.
Anda mungkin sering melihat atraksi pesawat terbang ketika peringatan
hari ulang tahun (HUT) TNI AU digelar. Misalnya HUT ke 67 pada 9 April
sekarang ini. Tahukah Anda, bila pesawat angkut setelah masa kemerdekaan
dulu merupakan hasil sumbangan rakyat Sumatra?
Dua tahun paska
kemerdekaan, pemerintah RI yang masih bayi membutuhkan angkutan udara
untuk jual beli barang, mengirim seorang diplomat, atau untuk mengirim
pasukan secara cepat. Pesawat angkut pertama kali adalah RI-002, disusul
RI-003, kemudian RI-004, kemudian RI-005, RI-006, dan terakhir adalah
pesawat RI-001.
Lalu dari mana pemerintah membeli pesawat-pesawat
itu? Seperti ditulis dalam buku Sejarah Operasi Penerbangan Indonesia
periode 1945-1950 yang diterbitkan Dinas Sejarah TNI AU, setidaknya ada
tiga pesawat dibeli dari hasil sumbangan rakyat Sumatra, yakni; pesawat
Avro Anson pada Desember 1947.
Pesawat itu dibeli dari bangsawan
Australia, H Keegan, dengan nomor registrasi VH-BBY. Pembelian pesawat
dilakukan dengan cara barter emas seberat 12 kg sumbangan rakyat
Sumatra. Pesawat ini kemudian diberi nama RI-003. Kemudian pesawat Avro
Anson kedua yang dibeli pada 1948. Pesawat ini diberi nama RI-004.
Terakhir
adalah pesawat Dakota yang juga hasil sumbangan rakyat Sumatra. Untuk
mengumpulkan dana itu, Soekarno berpidato pertama kali pada 16 Juni 1948
di Aceh Hotel, Kuta Raja, dan berhasil menggugah semangat rakyat
Sumatra khususnya Aceh.
Lalu panitia Dakota dibentuk, dan diketuai oleh Djunet Yusuf, Said Ahmad Al Habsji.
Dalam
tempo dua hari, masyarakat Aceh berhasil mengumpulkan uang 130.000
straits dollar, lalu digunakan oleh pemerintah membeli pesawat Dakota
RI-001 Seulawah. Pesawat ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan
penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar
jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia.
Pesawat
Dakota Seulawah ini memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang
sayap 28.96 meter, ditenagai dua mesin Pratt & Whitney berbobot
8.030 kg.
Sumber: Merdeka.com Yahoo Indonesia.com
Rabu, 10 April 2013
Kamis, 04 April 2013
Hukum Sholat Berjama'ah Di Masjid Bagi Wanita
Shalat berjamaah di masjid merupakan perkara yang lazim. Namun
sesungguhnya Islam telah mengatur hal-hal khusus bagi wanita. Dan
bagaimana Islam menyikapi kondisi saat ini di mana para wanita datang ke
masjid dengan bersolek dan membuka auratnya? Simak bahasan berikut.
Sejak
zaman nubuwwah, kehadiran wanita untuk shalat berjamaah di masjid
bukanlah sesuatu yang asing. Hal ini kita ketahui dari hadits-hadits
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya hadits ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha. Kata beliau:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan shalat ‘Isya hingga ‘Umar berseru memanggil beliau seraya berkata: ‘Telah tertidur para wanita dan anak-anak [1]. Maka keluarlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata kepada orang-orang yang hadir di masjid:
“Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menanti shalat ini selain kalian.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 566 dan Muslim no. 638)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan shalat ‘Isya hingga ‘Umar berseru memanggil beliau seraya berkata: ‘Telah tertidur para wanita dan anak-anak [1]. Maka keluarlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata kepada orang-orang yang hadir di masjid:
“Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menanti shalat ini selain kalian.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 566 dan Muslim no. 638)
Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata:
“Mereka wanita-wanita mukminah menghadiri shalat Shubuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berselimut dengan kain-kain mereka. Kemudian para wanita itu kembali ke rumah-rumah mereka seselesainya dari shalat tanpa ada seorang pun yang mengenali mereka karena masih gelap.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 578 dan Muslim no. 645)
“Mereka wanita-wanita mukminah menghadiri shalat Shubuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berselimut dengan kain-kain mereka. Kemudian para wanita itu kembali ke rumah-rumah mereka seselesainya dari shalat tanpa ada seorang pun yang mengenali mereka karena masih gelap.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 578 dan Muslim no. 645)
Ummu
Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan: “Di masa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, para wanita yang ikut hadir dalam shalat berjamaah,
selesai salam segera bangkit meninggalkan masjid pulang kembali ke rumah
mereka. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan jamaah
laki-laki tetap diam di tempat mereka sekedar waktu yang diinginkan
Allah. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit, bangkit
pula kaum laki-laki tersebut.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 866, 870)
Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Aku berdiri untuk menunaikan shalat dan tadinya aku berniat untuk memanjangkannya. Namun kemudian aku mendengar tangisan bayi, maka aku pun memendekkan shalatku karena aku tidak suka memberatkan ibunya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 868)
“Aku berdiri untuk menunaikan shalat dan tadinya aku berniat untuk memanjangkannya. Namun kemudian aku mendengar tangisan bayi, maka aku pun memendekkan shalatku karena aku tidak suka memberatkan ibunya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 868)
Beberapa
hadits di atas cukuplah menunjukkan bagaimana keikutsertaan wanita dalam
shalat berjamaah di masjid. Lalu sekarang timbul pertanyaan, apa hukum
shalat berjamaah bagi wanita?
Dalam hal
ini wanita tidaklah sama dengan laki-laki. Dikarenakan ulama telah
sepakat bahwa shalat jamaah tidaklah wajib bagi wanita dan tidak ada
perselisihan pendapat di kalangan mereka dalam permasalahan ini.
Ibnu Hazm
rahimahullah berkata (Al-Muhalla, 3/125): “Tidak diwajibkan bagi kaum
wanita untuk menghadiri shalat maktubah (shalat fardhu) secara
berjamaah. Hal ini merupakan perkara yang tidak diperselisihkan (di
kalangan ulama).” Beliau juga berkata: “Adapun kaum wanita, hadirnya
mereka dalam shalat berjamaah tidak wajib, hal ini tidaklah
diperselisihkan. Dan didapatkan atsar yang shahih bahwa para istri Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di kamar-kamar mereka dan tidak
keluar ke masjid.” (Al-Muhalla, 4/196)
Al-Imam
An-Nawawi rahimahullah menyatakan: “Telah berkata teman-teman kami bahwa
hukum shalat berjamaah bagi wanita tidaklah fardhu ‘ain tidak pula
fardhu kifayah, akan tetapi hanya mustahab (sunnah) saja bagi mereka.”
(Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 4/188)
Ibnu
Qudamah rahimahullah juga mengisyaratkan tidak wajibnya shalat jamaah
bagi wanita dan beliau menekankan bahwa shalatnya wanita di rumahnya
lebih baik dan lebih utama. (Al-Mughni, 2/18)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah bersabda kepada para wanita:
“Shalatnya salah seorang di makhda’-nya (kamar khusus yang digunakan untuk menyimpan barang berharga) lebih utama daripada shalatnya di kamarnya. Dan shalatnya di kamar lebih utama daripada shalatnya di rumahnya. Dan shalatnya di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid kaumnya. Dan shalatnya di masjid kaumnya lebih utama daripada shalatnya bersamaku.” (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 155)
“Shalatnya salah seorang di makhda’-nya (kamar khusus yang digunakan untuk menyimpan barang berharga) lebih utama daripada shalatnya di kamarnya. Dan shalatnya di kamar lebih utama daripada shalatnya di rumahnya. Dan shalatnya di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid kaumnya. Dan shalatnya di masjid kaumnya lebih utama daripada shalatnya bersamaku.” (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 155)
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“Jangan kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah dari shalat di masjid-masjid-Nya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 442)
“Jangan kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah dari shalat di masjid-masjid-Nya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 442)
Dalam riwayat Abu Dawud (no. 480) ada tambahan:
“meskipun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 576 dan dalam Al-Misykat no. 1062)
“meskipun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 576 dan dalam Al-Misykat no. 1062)
Dalm
Nailul Authar, Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata setelah
membawakan hadits di atas: “Yakni shalat mereka di rumah-rumah mereka
lebih baik bagi mereka daripada shalat mereka di masjid-masjid,
seandainya mereka mengetahui yang demikian itu. Akan tetapi mereka tidak
mengetahuinya sehingga meminta ijin untuk keluar berjamaah di masjid,
dengan keyakinan pahala yang akan mereka peroleh dengan shalat di masjid
lebih besar. Shalat mereka di rumah lebih utama karena aman dari
fitnah, yang menekankan alasan ini adalah ucapan ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha ketika melihat para wanita keluar ke masjid dengan tabarruj dan
bersolek.”[2] (Nailul Authar, 3/168)
Asy-Syaikh
Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah setelah menyebutkan hadits: “meskipun
rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”, menyatakan dalam salah satu
fatwanya: “Hadits ini memberi pengertian bahwa shalat wanita di rumahnya
lebih utama. Jika mereka (para wanita) berkata: ‘Aku ingin shalat di
masjid agar dapat berjamaah.’ Maka akan aku katakan: ‘Sesungguhnya
shalatmu di rumahmu lebih utama dan lebih baik.’ Hal ini dikarenakan
seorang wanita akan terjauh dari ikhtilath (bercampur baur tanpa batas)
bersama lelaki lain sehingga akan menjauhkannya dari fitnah.” (Majmu’ah
Durus Fatawa, 2/274)
Asy-Syaikh
Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah juga mengatakan: “Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda demikian sementara beliau berada di Madinah dan kita
tahu shalat di Masjid Nabawi memiliki keutamaan dan nilai lebih. Akan
tetapi karena shalat wanita di rumahnya lebih tertutup baginya dan lebih
jauh dari fitnah maka hal itu lebih utama dan lebih baik.” (Al-Fatawa
Al-Makkiyyah, hal. 26-27, sebagaimana dinukil dalam Al-Qaulul Mubin fi
Ma’rifati maa Yuhammul Mushallin, hal. 570)
Dari
keterangan di atas, jelaslah bagi kita akan keutamaan shalat wanita di
rumahnya. Setelah ini mungkin timbul pertanyaan di benak kita: Apakah
shalat berjamaah yang dilakukan wanita di rumahnya masuk dalam sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Shalat berjamaah dibandingkan shalat sendiri lebih utama dua puluh lima (dalam riwayat lain: dua puluh tujuh derajat)”. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 645, 646 dan Muslim no. 649, 650)
“Shalat berjamaah dibandingkan shalat sendiri lebih utama dua puluh lima (dalam riwayat lain: dua puluh tujuh derajat)”. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 645, 646 dan Muslim no. 649, 650)
Dalam hal
ini Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullah menegaskan bahwa keutamaan 25
atau 27 derajat yang disebutkan dalam hadits khusus bagi shalat
berjamaah di masjid dikarenakan beberapa perkara yang tidak mungkin
didapatkan kecuali dengan datang berjamaah di masjid. (Fathul Bari,
2/165-167)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah meriwayatkan akan hal ini dalam sabdanya:
“Shalat seseorang dengan berjamaah dilipat gandakan sebanyak 25 kali lipat bila dibandingkan shalatnya di rumahnya atau di pasar. Hal itu dia peroleh dengan berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu ia keluar menuju masjid dan tidak ada yang mengeluarkan dia kecuali semata untuk shalat. Maka tidaklah ia melangkah dengan satu langkah melainkan diangkat baginya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan. Tatkala ia shalat, para malaikat terus menerus mendoakannya selama ia masih berada di tempat shalatnya dengan doa: “Ya Allah, berilah shalawat atasnya. Ya Allah, rahmatilah dia.” Terus menerus salah seorang dari kalian teranggap dalam keadaan shalat selama ia menanti shalat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 647 dan Muslim no. 649)
“Shalat seseorang dengan berjamaah dilipat gandakan sebanyak 25 kali lipat bila dibandingkan shalatnya di rumahnya atau di pasar. Hal itu dia peroleh dengan berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu ia keluar menuju masjid dan tidak ada yang mengeluarkan dia kecuali semata untuk shalat. Maka tidaklah ia melangkah dengan satu langkah melainkan diangkat baginya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan. Tatkala ia shalat, para malaikat terus menerus mendoakannya selama ia masih berada di tempat shalatnya dengan doa: “Ya Allah, berilah shalawat atasnya. Ya Allah, rahmatilah dia.” Terus menerus salah seorang dari kalian teranggap dalam keadaan shalat selama ia menanti shalat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 647 dan Muslim no. 649)
Dengan
demikian, shalat jamaah wanita di rumahnya tidak termasuk dalam
keutamaan 25 atau 27 derajat, akan tetapi mereka yang melakukannya
mendapatkan keutamaan tersendiri, yaitu shalat mereka di rumahnya,
secara sendiri ataupun berjamaah, lebih utama daripada shalatnya di
masjid, wallahu a’lam.
_____________________________
Footnote:
*) Yakni mereka yang ikut hadir untuk shalat berjamaah di masjid. (Syarah Shahih Muslim, 5/137, Fathul Bari, 2/59)
**) Yang dimaksud Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah adalah atsar yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari (no. 869) dan Al-Imam Muslim (no. 445) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat apa yang diperbuat oleh para wanita itu, niscaya beliau akan melarang mereka mendatangi masjid sebagaimana dilarangnya para wanita Bani Israil.” Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Yang diperbuat oleh wanita tersebut adalah (keluar ke masjid dengan) mengenakan perhiasan, wangi-wangian, dan pakaian yang bagus.” (Syarah Shahih Muslim, 4/164)
*) Yakni mereka yang ikut hadir untuk shalat berjamaah di masjid. (Syarah Shahih Muslim, 5/137, Fathul Bari, 2/59)
**) Yang dimaksud Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah adalah atsar yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari (no. 869) dan Al-Imam Muslim (no. 445) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat apa yang diperbuat oleh para wanita itu, niscaya beliau akan melarang mereka mendatangi masjid sebagaimana dilarangnya para wanita Bani Israil.” Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Yang diperbuat oleh wanita tersebut adalah (keluar ke masjid dengan) mengenakan perhiasan, wangi-wangian, dan pakaian yang bagus.” (Syarah Shahih Muslim, 4/164)
Sumber: Majalah Asy Syari’ah, http://indonesian.iloveallaah.com/hukum-shalat-berjamaah-di-masjid-bagi-wanita/
Selasa, 02 April 2013
Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Arthritis Reumatoid
BAB I
PENDAHULUAN
Penyakit artritis rematoid merupakan
suatu penyakit yang telah lama dikenal dan tersebar diseluruh dunia serta
melibatkan semua ras dan kelompok etnik. Artritis rheumatoid sering dijumpai
pada wanita, dengan perbandingan wanita denga pria sebesar 3 : 1. kecenderungan
wanita untuk menderita artritis reumatoid dan sering dijumpai remisi pada
wanita yang sedang hamil, hal ini menimbulkan dugaan terdapatnya faktor
keseimbangan hormonal sebagai salah satu faktor yang berpengaruh pada penyakit
ini.
Artritis
Reumatoid (AR) salah satu dari beberapa penyakit rematik adalah suatu penyakit
otoimun sistemik yang menyebabkan peradangan pada sendi. Penyakit ini ditandai
oleh peradangan sinovium yang menetap, suatu sinovitis proliferatifa kronik non
spesifik. Dengan berjalannya waktu, dapat terjadi erosi tulang, destruksi
(kehancuran) rawan sendi dan kerusakan total sendi. Akhirnya, kondisi ini dapat
pula mengenai berbagai organ tubuh.
Penyakit ini
timbul akibat dari banyak faktor mulai dari genetik (keturunan) sampai pada
gaya hidup kita (merokok). Salah satu teori nya adalah akibat dari sel darah
putih yang berpindah dari aliran darah ke membran yang berada disekitar sendi.
Sebagian besar penderita menunjukkan gejala penyakit kronik yang hilang
timbul, yang jika tidak diobati akan menyebabkan terjadinya kerusakan
persendian dan deformitas sendi yang progresif yang menyebabkan disabilitas
bahkan kematian dini. Walaupun faktor genetik, hormon sex, infeksi dan umur
telah diketahui berpengaruh kuat dalam menentukan pola morbiditas penyakit ini.hingga
etiologi AR yang sebenarnya tetap belum dapat diketahui dengan pasti.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.
Pengertian
Artritis Reumatoid (Rheumatoid
arthritis) is a chronic inflammatory disease with primary manifestation
poliartritis progressive and involve all the organs, jadi merupakan suatu
penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan
melibatkan seluruh organ tubuh. (Arif Mansjour. 2001)
Artritis reumatoid adalah suatu penyakit inflamasi
sistemik kronik yang tidak diketahui penyebabnya, dikarakteristikan oleh
kerusakan dan proliferasi membran sinovial, yang menyebabkan kerusakan
pada tulang sendi, ankilosis, dan deformitas.
(Doenges, E Marilynn, 2000 : hal 859)
Artritis reumatoid adalah suatu penyakit inflamasi
sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan
seluruh organ tubuh.(Kapita Selekta Kedokteran, 2001 : hal 536)
Artritis Reumatoid adalah gangguan
autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone &
Burke, 2001 : 1248).
Penyakit reumatik adalah penyakit
inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan
mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris. ( Rasjad Chairuddin,
Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi, hal. 165 )
B.Anatomi dan Fisiologi
Muskuluskeletal
terdiri dari tulang, otot, kartilago, ligament, tendon, fasia, bursae dan
persendian.
a.
Tulang
Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada bagian
intra-seluler. Tulang berasal dari embryonic hyaline cartilage yang mana
melalui proses “osteogenesis” menjadi tulang. Proses ini dilakukan oleh sel-sel
yang disebut Osteoblast.
Proses
mengerasnya tulang akibat menimbunya garam kalsium.
Fungsi
tulang adalah sebagai berikut:
- Mendukung jaringan tubuh dan menbuntuk tubuh.
- Melindungi organ tubuh (jantung, otak, paru-paru) dan jaringan lunak.
- Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi dan pergerakan )
- Membuat sel-sel darah merah di dalam sumsum tulang (hema topoiesis).
- Menyimpan garam-garam mineral. Misalnya kalsium, fosfor.
Tulang
dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya :
- Tulang panjang (femur, humerus ) terdiri dari satu batang dan dua epifisis. Batang dibentuk oleh jaringan tulang yang padat.epifisis dibentuk oleh spongi bone (Cacellous atau trabecular )
- Tulang pendek (carpalas) bentuknya tidak teratur dan cancellous (spongy) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat.
- Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri dari dua lapisan tulang padat dengan lapisan luar adalah tulang cancellous.
- Tulang yang tidak beraturan (vertebra) sama seperti tulang pendek.
- ü Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak di sekitar tulang yang berdekatan dengan persendian dan didukung oleh tendon danjaringan fasial,missal patella (kap lutut)
b.
Otot
Otot
dibagi dalam tiga kelompok, dengan fungsi utama untuk kontraksi dan untuk
menghasilkan pergerakan dari bagian tubuh atau seluruh tubuh. Kelompok otot
terdiri dari:
- Otot rangka (otot lurik) didapatkan pada system skeletal dan berfungsi untuk memberikan pengontrolan pergerakan, mempertahankan sikap dan menghasilkan panas
- Otot Viseral (otot polos) didapatkan pada saluran pencernaan, saluran perkemihan dan pembuluh darah. Dipengaruhi oleh sisten saraf otonom dan kontraksinya tidak dibawah control keinginan.
- Otot jantung didapatkan hanya pada jantung dan kontraksinya tidak dibawah control keinginan.
c.
Kartilago
Kartilago
terdiri dari serat-serat yang dilakukan pada gelatin yang kuat. Kartilago
sangat kuat tapi fleksibel dan tidak bervascular. Nutrisi mencapai kesel-sel
kartilago dengan proses difusi melalui gelatin dari kapiler-kapiler yang berada
di perichondrium (fibros yang menutupi kartilago) atau sejumlah serat-serat
kolagen didapatkan pada kartilago.
d.
Ligament
Ligament
adalah sekumpulan dari jaringan fibros yang tebal dimana merupakan ahir dari
suatu otot dan dan berfungsi mengikat suatu tulang.
e.
Tendon
Tendon
adalah suatu perpanjangan dari pembungkus fibrous yang membungkus setiap otot
dan berkaitan dengan periosteum jaringan penyambung yang mengelilingi tendon
tertentu, khususnya pada pergelangan tangan dan tumit. Pembungkus ini dibatasi
oleh membrane synofial yang memberikan lumbrikasi untuk memudahkan pergerakan
tendon.
f.
Fasia
Fasia
adalah suatu permukaan jaringan penyambung longgar yang didapatkan langsung
dibawah kulit sebagai fasia supervisial atau sebagai pembungkus tebal, jaringan
penyambung yang membungkus fibrous yang membungkus otot, saraf dan pembuluh
darah.bagian ahair diketahui sebagai fasia dalam.
g.
Bursae
Bursae
adalah suatu kantong kecil dari jaringan penyambung dari suatu tempat, dimana
digunakan diatas bagian yang bergerak, misalnya terjadi pada kulit dan tulang,
antara tendon dan tulang antara otot. Bursae bertindak sebagai penampang antara
bagian yang bergerak sepaerti pada olecranon bursae, terletak antara presesus
dan kulit.
h.
Persendian
Pergerakan
tidak akan mungkin terjadi bila kelenturan dalam rangka tulang tidak ada.
Kelenturan dimungkinkan karena adanya persendian, tatu letah dimana tulang
berada bersama-sama. Bentuk dari persendian akan ditetapkan berdasarkan jumlah
dan tipe pergerakan yang memungkinkan dan klasifikasi didasarkan pada jumlah
pergerakan yang dilakukan.
Berdasarkan klasifikasinya terdapat 3 kelas utama persendian yaitu:
Berdasarkan klasifikasinya terdapat 3 kelas utama persendian yaitu:
- Sendi synarthroses (sendi yang tidak bergerak)
- Sendi amphiartroses (sendi yang sedikit pergerakannya)
- Sendi diarthoses (sendi yang banyak pergerakannya)
Perubahan
fisiologis pada proses menjadi tua. Ada jangka periode waktu tertentu dimana
individu paling mudah mengalami perubahan musculoskeletal. Perubahan ini
terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja karena pertumbuhan atau perkembangan
yang cepat atau timbulnya terjadi pada usia tua. Perubahan struktur system
muskuloskeletal dan fungsinya sangat bervariasi diantara individu selama proses
menjadi tua. Perubahan yang terjadi pada proses menjadi tua merupakan suatu
kelanjutan dari kemunduran yang dimulai dari usia pertengahan. Jumlah total
dari sel-sel bertumbuh berkurang akibat perubahan jaringan prnyambung,
penurunan pada jumlah dan elasitas dari jaringan subkutan dan hilangnya serat
otot, tonus dan kekuatan. Perubahan fisiologis yang umum adalah:
- Adanya penurunan yang umum pada tinggi badan sekitar 6-10 cm. pada maturasi usia tua.
- Lebar bahu menurun.
- Fleksi terjadi pada lutut dan pangkal paha
C. Penyebab / Etiologi Artritis Reumatoid
Penyebab utama penyakit reumatik
masih belum diketahui secara pasti. Biasanya merupakan kombinasi dari faktor
genetik, lingkungan, hormonal dan faktor sistem reproduksi. Namun faktor
pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikoplasma dan virus
(Lemone & Burke, 2001).
Ada beberapa teori yang dikemukakan
sebagai penyebab artritis reumatoid, yaitu:
1.
Infeksi Streptokkus hemolitikus dan
Streptococcus non-hemolitikus.
3.
Autoimmun
4.
Metabolik
5.
Faktor genetik serta pemicu
lingkungan
Pada saat ini artritis reumatoid
diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi. Autoimun ini bereaksi
terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin disebabkan oleh karena virus
dan organisme mikroplasma atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe
II kolagen dari tulang rawan sendi penderita.
D.
Manifestasi Klinik Artritis
Reumatoid
Ada beberapa gambaran / manifestasi
klinik yang ditemukan pada penderita reumatik. Gambaran klinik ini tidak
harus muncul sekaligus pada saat yang bersamaan oleh karena penyakit ini
memiliki gambaran klinik yang sangat bervariasi.
2)
Poliartritis simetris (peradangan
sendi pada sisi kiri dan kanan) terutama pada sendi perifer, termasuk
sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi antara
jari-jari tangan dan kaki. Hampir semua sendi diartrodial (sendi yang dapat
digerakan dengan bebas) dapat terserang.
3)
Kekakuan di pagi hari selama lebih
dari 1 jam, dapat bersifat umum tetapi terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan
ini berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartritis (peradangan tulang dan
sendi), yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selama kurang
dari 1 jam.
4)
Artritis erosif merupakan merupakan
ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik. Peradangan sendi yang kronik
mengakibatkan pengikisan ditepi tulang .
5)
Deformitas : kerusakan
dari struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau
deviasi jari, pergeseran sendi pada tulang telapak tangan dan jari, deformitas
boutonniere dan leher angsa adalah beberapa deformitas tangan yang sering
dijumpai pada penderita. . Pada kaki terdapat tonjolan kaput metatarsal yang
timbul sekunder dari subluksasi metatarsal. Sendi-sendi yang besar juga dapat
terserang dan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan
gerakan ekstensi.
6)
Nodula-nodula reumatoid adalah massa
subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa penderita rematik.
Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi
siku) atau di sepanjang permukaan ekstensor dari lengan, walaupun demikian
tonjolan) ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya nodula-nodula
ini biasanya merupakan petunjuk suatu penyakit yang aktif dan lebih berat.
g. Manifestasi ekstra-artikular (diluar sendi): reumatik juga dapat menyerang organ-organ lain diluar sendi. Seperti mata: Kerato konjungtivitis, sistem cardiovaskuler dapat menyerupai perikarditis konstriktif yang berat, lesi inflamatif yang menyerupai nodul rheumatoid dapat dijumpai pada myocardium dan katup jantung, lesi ini dapat menyebabkan disfungsi katup, fenomena embolissasi, gangguan konduksi dan kardiomiopati.
g. Manifestasi ekstra-artikular (diluar sendi): reumatik juga dapat menyerang organ-organ lain diluar sendi. Seperti mata: Kerato konjungtivitis, sistem cardiovaskuler dapat menyerupai perikarditis konstriktif yang berat, lesi inflamatif yang menyerupai nodul rheumatoid dapat dijumpai pada myocardium dan katup jantung, lesi ini dapat menyebabkan disfungsi katup, fenomena embolissasi, gangguan konduksi dan kardiomiopati.
E.
Patofisiologi Artritis Reumatoid
Membran syinovial pada pasien
reumatoid artritis mengalami hiperplasia, peningkatan vaskulariasi, dan ilfiltrasi
sel-sel pencetus inflamasi, terutama sel T CD4+. Sel T CD4+ ini sangat berperan
dalam respon immun. Pada penelitian terbaru di bidang genetik, reumatoid
artritis sangat berhubungan dengan major-histocompatibility-complex class II
antigen HLA-DRB1*0404 dan DRB1*0401. Fungsi utama dari molekul HLA class II
adalah untuk mempresentasikan antigenic peptide kepada CD4+ sel T yang
menujukkan bahwa reumatoid artritis disebabkan oleh arthritogenic yang belim
teridentifikasi. Antigen ini bisa berupa antigen eksogen, seperti protein virus
atau protein antigen endogen. Baru-baru ini sejumlah antigen endogen telah
teridentifikasi, seperti citrullinated protein dan human cartilage glycoprotein
39.
Antigen mengaktivasi CD4+ sel T yang
menstimulasi monosit, makrofag dan syinovial fibroblas untuk memproduksi
interleukin-1, interleukin-6 dan TNF-α untuk mensekresikan matrik
metaloproteinase melalui hubungan antar sel dengan bantuan CD69 dan CD11
melalui pelepasan mediator-mediator pelarut seperti interferon-γ dan
interleukin-17. Interleukin-1, interlukin-6 dan TNF-α merupakan kunci
terjadinya inflamasi pada rheumatoid arthritis.
Arktifasi CD4+ sel T juga
menstimulasi sel B melalui kontak sel secara langsung dan ikatan dengan α1β2
integrin, CD40 ligan dan CD28 untuk memproduksi immunoglobulin meliputi
rheumatoid faktor. Sebenarnya fungsi dari rhumetoid faktor ini dalam proses
patogenesis reumatoid artritis tidaklah diketahui secara pasti, tapi
kemungkinan besar reumatoid faktor mengaktiflkan berbagai komplemen melalui
pembentukan immun kompleks.aktifasi CD4+ sel T juga mengekspresikan
osteoclastogenesis yang secara keseluruhan ini menyebabkan gangguan sendi.
Aktifasi makrofag, limfosit dan fibroblas juga menstimulasi angiogenesis
sehingga terjadi peningkatan vaskularisasi yang ditemukan pada synovial
penderita reumatoid artritis.
Ø
Faktor Reumatoid : positif pada
80-95% kasus.
Ø
Fiksasi lateks: Positif pada 75 %
dari kasus-kasus khas.
Ø
Reaksi-reaksi aglutinasi : Positif
pada lebih dari 50% kasus-kasus khas.
Ø
LED : Umumnya meningkat pesat (
80-100 mm/h) mungkin kembali normal sewaktu gejala-gejala meningkat
Ø
Protein C-reaktif: positif selama
masa eksaserbasi.
Ø
SDP: Meningkat pada waktu timbul
prosaes inflamasi
Ø
JDL : umumnya menunjukkan anemia
sedang.
Ø
Ig ( Ig M dan Ig G); peningkatan
besar menunjukkan proses autoimun sebagai penyebab AR.
Ø
Sinar X dari sendi yang sakit :
menunjukkan pembengkakan pada jaringan lunak, erosi sendi, dan osteoporosis
dari tulang yang berdekatan ( perubahan awal ) berkembang menjadi formasi kista
tulang, memperkecil jarak sendi dan subluksasio. Perubahan osteoartristik yang
terjadi secara bersamaan.
Ø
Scan radionuklida : identifikasi
peradangan sinovium
Ø
Artroskopi Langsung : Visualisasi
dari area yang menunjukkan irregularitas/ degenerasi tulang pada sendi
Ø
Aspirasi cairan sinovial : mungkin
menunjukkan volume yang lebih besar dari normal: buram, berkabut, munculnya
warna kuning ( respon inflamasi, produk-produk pembuangan degeneratif );
elevasi SDP dan lekosit, penurunan viskositas dan komplemen ( C3 dan C4 ).
Ø
Biopsi membran sinovial :
menunjukkan perubahan inflamasi dan perkembangan panas.
Kriteria
diagnostik Artritis Reumatoid adalah terdapat poli- arthritis yang simetris
yang mengenai sendi-sendi proksimal jari tangan dan kaki serta menetap
sekurang-kurangnya 6 minggu atau lebih bila ditemukan nodul subkutan atau
gambaran erosi peri-artikuler pada foto rontgen.
Kriteria
Artritis rematoid menurut American Reumatism Association ( ARA ) adalah:
1)
Kekakuan sendi jari-jari tangan
pada pagi hari ( Morning Stiffness ).
2)
Nyeri pada pergerakan sendi atau
nyeri tekan sekurang-kurangnya pada satu sendi.
3)
Pembengkakan ( oleh penebalan
jaringan lunak atau oleh efusi cairan ) pada salah satu sendi secara
terus-menerus sekurang-kurangnya selama 6 minggu.
4)
Pembengkakan pada sekurang-kurangnya
salah satu sendi lain.
5)
Pembengkakan sendi yanmg bersifat
simetris.
6)
Nodul subcutan pada daerah tonjolan
tulang didaerah ekstensor.
7)
Gambaran foto rontgen yang khas
pada arthritis rheumatoid
8)
Uji aglutinnasi faktor rheumatoid
9)
Pengendapan cairan musin yang
jelek
10) Perubahan karakteristik histologik lapisan sinovia
11) gambaran histologik yang khas pada nodul.
Berdasarkan
kriteria ini maka disebut :
v
Klasik : bila terdapat 7 kriteria
dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu
v
Definitif : bila terdapat 5
kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu.
v
Kemungkinan rheumatoid : bila
terdapat 3 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 4 minggu.
G.
Penatalaksanaan
Medis
Penatalaksanaan
medik pada pasien RA diantaranya :
a)
Pendidikan : meliputi
tentang pengertian, patofisiologi, penyebab, dan prognosis penyakit ini
b)
Istirahat : karena pada
RA ini disertai rasa lelah yang hebat
c)
Latihan : pada saat
pasien tidak merasa lelah atau inflamasi berkurang, ini bertujuan untuk mempertahankan
fungsi sendi pasien
d)
Termoterapi
e)
Gizi yaitu dengan
memberikan gizi yang tepat
f)
Pemberian Obat-obatan :
ü Anti
Inflamasi non steroid (NSAID) contoh:aspirin yang diberikan pada dosis yang
telah ditentukan.
ü Obat-obat
untuk Reumatoid Artitis :
·
Acetyl salicylic acid,
Cholyn salicylate (Analgetik, Antipyretik, Anty Inflamatory)
·
Indomethacin/Indocin(Analgetik,
Anti Inflamatori)
·
Ibufropen/motrin
(Analgetik, Anti Inflamatori)
·
Tolmetin sodium/Tolectin(Analgetik
Anti Inflamatori)
·
Naproxsen/naprosin (Analgetik,
Anti Inflamatori)
·
Sulindac/Clinoril (Analgetik,
Anti Inflamatori)
·
Piroxicam/Feldene
(Analgetik, Anti Inflamatori)
H.
Komplikasi
1.
Dapat menimbulkan perubahan pada
jaringan lain seperti adanya proses granulasi di bawah kulit yang disebut
subcutan nodule
2.
ada otot dapat terjadi myosis,
yaitu proses granulasi jaringan otot
3.
Pada pembuluh darah terjadi
tromboemboli
4.
Terjadi splenomegali
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1.
Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien tergantung pada keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya ( misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal ), tahapan misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.
Data dasar pengkajian pasien tergantung pada keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya ( misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal ), tahapan misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.
Pengkajian 11 Pola Gordon
1)
Pola Persepsi Kesehatan-
Pemeliharaan Kesehatan
a)
Apakah pernah mengalami sakit pada
sendi-sendi?
b)
Riwayat penyakit yang pernah
diderita sebelumnya?
c)
Riwayat keluarga dengan RA
d)
Riwayat keluarga dengan penyakit
autoimun
e)
Riwayat infeksi virus, bakteri,
parasit dll
2)
Pola Nutrisi Metabolik
a)
Jenis, frekuensi, jumlah makanan
yang dikonsumsi (makanan yang banyak mengandung pospor(zat kapur), vitamin dan
protein)
b)
Riwayat gangguan metabolic
3)
Pola Eliminasi
a)
Adakah gangguan pada saat BAB dan
BAK?
4)
Pola Aktivitas dan Latihan
a)
Kebiasaan aktivitas sehari-hari sebelum
dan sesudah sakit
b)
Jenis aktivitas yang dilakukan
c)
Rasa sakit/nyeri pada saat
melakukan aktivitas
d)
Tidak mampu melakukan aktifitas
berat
5)
Pola Istirahat dan Tidur
a)
Apakah ada gangguan tidur?
b)
Kebiasaan tidur sehari
c)
Terjadi kekakuan selama 1/2-1 jam
setelah bangun tidur
d)
Adakah rasa nyeri pada saat
istirahat dan tidur?
6)
.Pola Persepsi Kognitif
a)
Adakah nyeri sendi saat digerakan
atau istirahat?
7)
Pola Persepsi dan Konsep Diri
a)
Adakah perubahan pada bentuk tubuh
(deformitas/kaku sendi)?
b)
Apakah pasien merasa malu dan
minder dengan penyakitnya?
8)
Pola Peran dan Hubungan dengan
Sesama
a)
Bagaimana hubungan dengan
keluarga?
b)
Apakah ada perubahan peran pada
klien?
9)
Pola Reproduksi Seksualitas
a)
Adakah gangguan seksualitas?
10) Pola Mekanisme Koping dan
Toleransi terhadap Stress
a)
Adakah perasaan takut, cemas akan penyakit yang diderita?
11) Pola Sistem Kepercayaan
a)
Agama yang dianut?
b)
Adakah gangguan beribadah?
c)
Apakah klien menyerahkan
sepenuhnya penyakitnya kepada Tuhan
2.
Diagnosa Keperawatan & intervensi
1)
Nyeri berhubungan dengan agen pencedera,
distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
Dapat
dibuktikan oleh : Keluhan nyeri, ketidaknyamanan, kelelahan, berfokus pada diri sendiri, Perilaku distraksi/ respons
autonomic Perilaku yang bersifat
hati-hati/ melindungi. Hasil yang
diharapkan/ kriteria evaluasi pasien akan:
ü
Menunjukkan nyeri hilang/
terkontrol
ü
Terlihat rileks, dapat
tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan.
ü
Mengikuti program farmakologis
yang diresepkan
ü
Menggabungkan keterampilan
relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam program kontrol nyeri.
Intervensi dan
Rasional
a.
Selidiki keluhan nyeri, catat
lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor yang mempercepat dan
tanda-tanda rasa sakit non verbal (R/ Membantu dalam menentukan kebutuhan
manajemen nyeri dan keefektifan program
b.
Berikan matras/ kasur keras,
bantal kecil,. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan (R/Matras yang
lembut/ empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh
yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat
tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi/nyeri)
c.
Tempatkan/ pantau penggunaan
bantl, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace. (R/ Mengistirahatkan
sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat
menurunkan nyeri dan dapat mengurangi kerusakan pada sendi)
d.
Dorong untuk sering mengubah
posisi,. Bantu untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas
dan bawah, hindari gerakan yang menyentak. (R/ Mencegah terjadinya kelelahan
umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/ rasa sakit
pada sendi)
e.
Anjurkan pasien untuk mandi air
hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun dan/atau pada waktu tidur.
Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali
sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi, dan sebagainya. (R/ Panas
meningkatkan relaksasi otot, dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan
melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas pada panas dapat dihilangkan dan
luka dermal dapat disembuhkan)
f.
Berikan masase yang lembut
(R/meningkatkan relaksasi/ mengurangi nyeri)
g.
Dorong penggunaan teknik manajemen
stres, misalnya relaksasi progresif,sentuhan terapeutik, biofeed back,
visualisasi, pedoman imajinasi, hypnosis diri, dan pengendalian napas. (R/
Meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol dan mungkin meningkatkan
kemampuan koping)Libatkan dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi
individu. (R/ Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan
meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat)
h.
Beri obat sebelum aktivitas/
latihan yang direncanakan sesuai petunjuk. (R/ Meningkatkan realaksasi,
mengurangi tegangan otot/ spasme, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi)
i.
Kolaborasi: Berikan obat-obatan
sesuai petunjuk (mis:asetil salisilat) (R/ sebagai anti inflamasi dan efek
analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas.)
j.
Berikan kompres dingin jika
dibutuhkan (R/ Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak selama periode
akut)
2.
Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan deformitas skeletal,
nyeri, penurunan kekuatan otot.
nyeri, penurunan kekuatan otot.
Dapat dibuktikan
oleh : Keengganan untuk mencoba bergerak/ ketidakmampuan untuk dengan sendiri bergerak
dalam lingkungan fisik. Membatasi rentang gerak, ketidakseimbangan koordinasi,
penurunan kekuatan otot/ kontrol dan massa ( tahap lanjut ). Hasil yang
diharapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :
ü
Mempertahankan fungsi posisi
dengan tidak hadirnya/ pembatasan kontraktur.
ü
Mempertahankan ataupun
meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/ atau kompensasi bagian tubuh.
ü
Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku
yang memungkinkan melakukan aktivitas
Intervensi dan
Rasional:
a.
Evaluasi/ lanjutkan pemantauan
tingkat inflamasi/ rasa sakit pada sendi (R/ Tingkat aktivitas/ latihan
tergantung dari perkembangan/ resolusi dari peoses inflamasi)
b.
Pertahankan istirahat tirah
baring/ duduk jika diperlukan jadwal aktivitas untuk memberikan periode
istirahat yang terus menerus dan tidur malam hari yang tidak terganmggu.(R/
Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit
yang penting untuk mencegah kelelahan mempertahankan kekuatan)
c.
Bantu dengan rentang gerak
aktif/pasif, demikiqan juga latihan resistif dan isometris jika memungkinkan
(R/ Mempertahankan/ meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum.
Catatan : latihan tidak adekuat menimbulkan kekakuan sendi, karenanya aktivitas
yang berlebihan dapat merusak sendi)
d.
Ubah posisi dengan sering dengan
jumlah personel cukup. Demonstrasikan/ bantu tehnik pemindahan dan penggunaan
bantuan mobilitas, mis, trapeze (R/ Menghilangkan tekanan pada jaringan dan
meningkatkan sirkulasi. Mempermudah perawatan diri dan kemandirian pasien.
Tehnik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit)
e.
Posisikan dengan bantal, kantung
pasir, gulungan trokanter, bebat, brace (R/ Meningkatkan stabilitas (
mengurangi resiko cidera ) dan memerptahankan posisi sendi yang diperlukan dan
kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor)
f.
Gunakan bantal kecil/tipis di
bawah leher. (R/ Mencegah fleksi leher)
g.
Dorong pasien mempertahankan
postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan (R/ Memaksimalkan fungsi
sendi dan mempertahankan mobilitas)
h.
Berikan lingkungan yang aman,
misalnya menaikkan kursi, menggunakan pegangan tangga pada toilet, penggunaan
kursi roda. (R/ Menghindari cidera akibat kecelakaan/ jatuh)
i.
Kolaborasi: konsul dengan
fisoterapi. (R/ Berguna dalam memformulasikan program latihan/ aktivitas yang
berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam mengidentifikasikan alat)
j.
Kolaborasi: Berikan matras busa/
pengubah tekanan. (R/ Menurunkan tekanan pada jaringan yang mudah pecah untuk mengurangi
risiko imobilitas)
k.
Kolaborasi: berikan obat-obatan
sesuai indikasi (steroid). (R/ Mungkin dibutuhkan untuk menekan sistem
inflamasi akut).
3. Gangguan Citra
Tubuh / Perubahan Penampilan Peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk
melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan
mobilitas.
Dapat dibuktikan
oleh : Perubahan fungsi dari bagian-bagian yang sakit.
Bicara negatif tentang diri sendiri, fokus pada kekuatan masa lalu, dan penampilan.Perubahan pada gaya hidup/ kemapuan fisik untuk melanjutkan peran, kehilangan pekerjaan, ketergantungan pada orang terdekat. Perubahan pada keterlibatan sosial; rasa terisolasi. Perasaan tidak berdaya, putus asa.
Bicara negatif tentang diri sendiri, fokus pada kekuatan masa lalu, dan penampilan.Perubahan pada gaya hidup/ kemapuan fisik untuk melanjutkan peran, kehilangan pekerjaan, ketergantungan pada orang terdekat. Perubahan pada keterlibatan sosial; rasa terisolasi. Perasaan tidak berdaya, putus asa.
Hasil yang
diharapkan / kriteria Evaluasi-Pasien akan :
ü
Mengungkapkan peningkatan rasa
percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya
hidup, dan kemungkinan keterbatasan.
ü
Menyusun rencana realistis untuk
masa depan.
Intervensi dan
Rasional
a.
Dorong pengungkapan mengenai
masalah tentang proses penyakit, harapan masa depan. (R/Berikan kesempatan untuk
mengidentifikasi rasa takut/ kesalahan konsep dan menghadapinya secara
langsung)
b.
Diskusikan arti dari kehilangan/
perubahan pada pasien/orang terdekat. Memastikan bagaimana pandangaqn pribadi
pasien dalam memfungsikan gaya hidup sehari-hari, termasuk aspek-aspek seksual.
(R/Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi diri dan interaksi
dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap intervensi/ konseling lebih
lanjut)
c.
Diskusikan persepsi pasienmengenai
bagaimana orang terdekat menerima keterbatasan. (R/ Isyarat verbal/non verbal
orang terdekat dapat mempunyai pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang
dirinya sendiri)
d.
Akui dan terima perasaan berduka,
bermusuhan, ketergantungan. (R/ Nyeri konstan akan melelahkan, dan perasaan marah
dan bermusuhan umum terjadi)
e.
Perhatikan perilaku menarik diri,
penggunaan menyangkal atau terlalu memperhatikan perubahan. (R/ Dapat
menunjukkan emosional ataupun metode koping maladaptive, membutuhkan intervensi
lebih lanjut)
f.
Susun batasan pada perilaku mal
adaptif. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat
membantu koping. (R/ Membantu pasien untuk mempertahankan kontrol diri, yang
dapat meningkatkan perasaan harga diri)
g.
Ikut sertakan pasien dalam
merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas. (Meningkatkan perasaan
harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong berpartisipasi dalam terapi)
h.
Bantu dalam kebutuhan perawatan
yang diperlukan.(R/ Mempertahankan penampilan yang dapat meningkatkan citra
diri)
i.
Berikan bantuan positif bila
perlu. (R/ Memungkinkan pasien untuk merasa senang terhadap dirinya sendiri.
Menguatkan perilaku positif. Meningkatkan rasa percaya diri)
j.
Kolaborasi: Rujuk pada konseling
psikiatri, mis: perawat spesialis psikiatri, psikolog. (R/ Pasien/orang terdekat
mungkin membutuhkan dukungan selama berhadapan dengan proses jangka panjang/
ketidakmampuan)
k.
Kolaborasi: Berikan obat-obatan
sesuai petunjuk, mis; anti ansietas dan obat-obatan peningkat alam perasaan.
(R/ Mungkin dibutuhkan pada sat munculnya depresi hebat sampai pasien
mengembangkan kemapuan koping yang lebih efektif)
4. Defisit
perawatan diri berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal, penurunan
kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.
Dapat dibuktikan
oleh : Ketidakmampuan untuk mengatur kegiatan sehari-hari. Hasil yang
diharapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :
ü
Melaksanakan aktivitas perawatan
diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan individual.
ü
Mendemonstrasikan perubahan
teknik/ gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
ü
Mengidentifikasi sumber-sumber
pribadi/ komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi dan
Rasional:
a.
Diskusikan tingkat fungsi umum
(0-4) sebelum timbul awitan/ eksaserbasi penyakit dan potensial perubahan yang
sekarang diantisipasi. (R/ Mungkin dapat melanjutkan aktivitas umum dengan
melakukan adaptasi yang diperlukan pada keterbatasan saat ini).
b.
Pertakhankan mobilitas, kontrol
terhadap nyeri dan program latihan. (R/ Mendukung kemandirian fisik/emosional)
c.
Kaji hambatan terhadap partisipasi
dalam perawatan diri. Identifikasi /rencana untuk modifikasi lingkungan. (R/
Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian, yang akan meningkatkan harga diri)
d.
Kolaborasi: Konsul dengan ahli
terapi okupasi. (R/ Berguna untuk menentukan alat bantu untuk memenuhi
kebutuhan individual. Mis; memasang kancing, menggunakan alat bantu memakai
sepatu, menggantungkan pegangan untuk mandi pancuran)
e.
Kolaborasi: Atur evaluasi
kesehatan di rumah sebelum pemulangan dengan evaluasi setelahnya. (R/
Mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin dihadapi karena tingkat kemampuan
aktual)
f.
Kolaborasi : atur konsul dengan
lembaga lainnya, mis: pelayanan perawatan rumah, ahli nutrisi. (R/ Mungkin
membutuhkan berbagai bantuan tambahan untuk persiapan situasi di rumah)
5. Kebutuhan
pembelajaran mengenai penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan kurangnya pemajanan/ mengingat, kesalahan interpretasi informasi.
Dapat dibuktikan
oleh : Pertanyaan/ permintaan informasi, pernyataan kesalahan konsep. Tidak
tepat mengikuti instruksi/ terjadinya komplikasi yang dapat dicegah. Hasil
yangdihapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :
ü
Menunjukkan pemahaman tentang kondisi/
prognosis, perawatan.
ü
Mengembangkan rencana untuk
perawatan diri, termasuk modifikasi gaya hidup yang konsisten dengan mobilitas
dan atau pembatasan aktivitas.
Intervensi dan
Rasional
a.
Tinjau proses penyakit, prognosis,
dan harapan masa depan. (R/ Memberikan pengetahuan dimana pasien dapat membuat
pilihan berdasarkan informasi)
b.
Diskusikan kebiasaan pasien dalam
penatalaksanaan proses sakit melalui diet,obat-obatan, dan program diet
seimbang, l;atihan dan istirahat.(R/ Tujuan kontrol penyakit adalah untuk
menekan inflamasi sendiri/ jaringan lain untuk mempertahankan fungsi sendi dan
mencegah deformitas)
c.
Bantu dalam merencanakan jadwal
aktivitas terintegrasi yang realistis,istirahat, perawatan pribadi, pemberian
obat-obatan, terapi fisik, dan manajemen stres. (R/ Memberikan struktur dan
mengurangi ansietas pada waktu menangani proses penyakit kronis kompleks)
d.
Tekankan pentingnya melanjutkan
manajemen farmakoterapeutik. (R/ Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung
pada ketepatan dosis)
e.
Anjurkan mencerna obat-obatan
dengan makanan, susu, atau antasida pada waktu tidur. (R/ Membatasi irigasi
gaster, pengurangan nyeri pada HS akan meningkatkan tidur dan m,engurangi
kekakuan di pagi hari)
f.
Identifikasi efek samping
obat-obatan yang merugikan, mis: tinitus, perdarahan gastrointestinal, dan ruam
purpuruik. (R/ Memperpanjang dan memaksimalkan dosis aspirin dapat
mengakibatkan takar lajak. Tinitus umumnya mengindikasikan kadar terapeutik
darah yang tinggi)
g.
Tekankan pentingnya membaca label
produk dan mengurangi penggunaan obat-obat yang dijual bebas tanpa persetujuan
dokter. (R/ Banyak produk mengandung salisilat tersembunyi yang dapat
meningkatkan risiko takar layak obat/ efek samping yang berbahaya)
h.
Tinjau pentingnya diet yang
seimbang dengan makanan yang banyak mengandung vitamin, protein dan zat besi.
(R/ Meningkatkan perasaan sehat umum dan perbaikan jaringan)
i.
Dorong pasien obesitas untuk
menurunkan berat badan dan berikan informasi penurunan berat badan sesuai
kebutuhan. (R/ Pengurangan berat badan akan mengurangi tekanan pada sendi,
terutama pinggul, lutut, pergelangan kaki, telapak kaki)
j.
Berikan informasi mengenai alat
bantu (R/ Mengurangi paksaan untuk menggunakan sendi dan memungkinkan individu
untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang dibutuhkan)
k.
Diskusikan tekinik menghemat
energi, mis: duduk daripada berdiri untuk mempersiapkan makanan dan mandi (R/
Mencegah kepenatan, memberikan kemudahan perawatan diri, dan kemandirian)
l.
Dorong mempertahankan posisi tubuh
yang benar baik pada sat istirahat maupun pada waktu melakukan aktivitas,
misalnya menjaga agar sendi tetap meregang , tidak fleksi, menggunakan bebat
untuk periode yang ditentukan, menempatkan tangan dekat pada pusat tubuh selama
menggunakan, dan bergeser daripada mengangkat benda jika memungkinkan. ( R:
mekanika tubuh yang baik harus menjadi bagian dari gaya hidup pasien untuk
mengurangi tekanan sendi dan nyeri ).
m.
Tinjau perlunya inspeksi sering
pada kulit dan perawatan kulit lainnya dibawah bebat, gips, alat penyokong.
Tunjukkan pemberian bantalan yang tepat. ( R: mengurangi resiko iritasi/
kerusakan kulit )
n.
Diskusikan pentingnya obat obatan
lanjutan/ pemeriksaan laboratorium, mis: LED, Kadar salisilat, PT. ( R; Terapi
obat obatan membutuhkan pengkajian/ perbaikan yang terus menerus untuk menjamin
efek optimal dan mencegah takar lajak, efek samping yang berbahaya.
o.
Berikan konseling seksual sesuai
kebutuhan ( R: Informasi mengenai posisi-posisi yang berbeda dan tehnik atau
pilihan lain untuk pemenuhan seksual mungkin dapat meningkatkan hubungan
pribadi dan perasaan harga diri/ percaya diri.).
p.
Identifikasi sumber-sumber
komunitas, mis: yayasan arthritis ( bila ada). (R: bantuan/ dukungan dari
oranmg lain untuk meningkatkan pemulihan maksimal).
REFERENSI
Hollmann DB. Arthritis & musculoskeletal disorders. In: Tierney LM, McPhee
Papadakis MA (Eds): Current Medical Diagnosis & Treatment, 34 th ed
Appleton & Lange, International Edition,
Connecticut 2005, 729-32.
Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta
Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta
Doenges E
Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta
Smeltzer, Suzzanne
C.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. .Jakarta: EGC.
Marilynn E.
Doenges dkk. Rencana Asuhan Keperawatan
edisi 3. Jakarta : EGC, 1999. EGC. 2002
Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3 jilik 2.
Jakarta
Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2000.
Carpenito, Lynda
Juall. Diagnosa Keperawatan. Jakarata :
EGC, 1999.
Langganan:
Postingan (Atom)


